AS, Jepang, dan Korea Selatan kompak lakukan intervensi valas besar untuk meredam gejolak pasar
Ringkasan Pasar AI
Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan dilaporkan melakukan intervensi valas terkoordinasi terbesar dalam beberapa dekade untuk menghentikan pelemahan JPY dan KRW serta membatasi dampak rambatan dari ekuitas Jepang/Korea dan sektor teknologi yang tertekan. Partisipasi AS melalui EUR/JPY alih-alih USD/JPY menandakan pendekatan non-dolar untuk mendukung yen sambil membatasi dampak langsung terhadap dolar. Aksi ini dapat memperketat kondisi risiko di seluruh Asia dan mengurangi transmisi volatilitas ke suku bunga global serta aset rantai pasok AI.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCFXUSD2JPY/USDT-0.48%
Wawasan AI · NCFXUSD2JPY/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Penulis: Li Jia | Sumber: Wall Street Journal
Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan pekan ini melakukan intervensi pasar valuta asing terkoordinasi terbesar dalam hampir tiga dekade. Langkah tersebut ditujukan untuk menahan tekanan depresiasi yen dan won, sekaligus dipandang sebagai upaya penting Washington menstabilkan pasar keuangan dua sekutunya dan mencegah rambatan risiko.
Operasi mencakup dua mata uang utama Asia, yakni yen Jepang dan won Korea. Otoritas moneter Jepang dan Korea Selatan sama-sama menopang mata uangnya dengan menjual dolar AS. Sementara itu, AS disebut masuk ke pasar yen melalui jalur non-dolar: menjual euro dan membeli yen untuk meredakan tekanan turun pada yen tanpa menambah tekanan pada dolar.
Tekanan di pasar Jepang dan Korea Selatan sebelumnya terus meningkat. Indeks KOSDAQ Korea Selatan turun ke level terendah sejak Oktober 2022, disertai koreksi yang menonjol di sektor teknologi. Pelemahan yen dan won terhadap dolar AS memicu kekhawatiran depresiasi lanjutan mata uang lokal dapat memicu reaksi berantai pada aset Asia.
Berbeda dari upaya masa lalu yang berfokus pada stabilisasi kurs, aksi terkoordinasi kali ini dinilai pasar lebih menyerupai paket penyangga untuk pasar keuangan Jepang dan Korea Selatan. Di tengah tekanan berkelanjutan pada pasar saham dan koreksi besar sektor teknologi, AS berupaya menstabilkan ekspektasi nilai tukar, memulihkan kepercayaan, dan membatasi transmisi risiko.
Jepang dan Korea Selatan merupakan pemain kunci dalam rantai pasok semikonduktor dan AI yang didukung AS. Menjaga stabilitas pasar aset keduanya dipandang dapat menurunkan risiko instabilitas finansial yang merembet ke rantai pasok teknologi maupun ke pasar AS.
Aksi bersama tiga negara ini—yang pertama dalam beberapa tahun—mendorong yen dan won melonjak. Financial Times melaporkan, pada 31 Juli Departemen Keuangan AS melalui Federal Reserve Bank of New York menggandeng Goldman Sachs dan Morgan Stanley untuk menjual euro dan membeli yen. Ini disebut sebagai intervensi langsung pertama AS di pasar yen dalam hampir 30 tahun.
Sebelumnya, otoritas Jepang dilaporkan masuk pasar valas pada 30 Juli dengan nilai sekitar 8,45 triliun yen (sekitar US$52,8 miliar) hanya dalam satu hari. Reuters juga melaporkan otoritas valas Korea Selatan secara tidak lazim turut masuk pasar pada hari yang sama dengan menjual dolar AS, mendorong won naik 2% dalam sehari dan mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan.
Berkat koordinasi tersebut, USD/JPY cepat turun dari di atas 162 ke kisaran 157–159, menandai penguatan yang jelas dari posisi terlemahnya dalam 40 tahun. Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan Moon Jisung mengatakan Seoul menjaga koordinasi erat dengan AS dan Jepang. Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional Atsushi Mimura menambahkan dukungan AS telah "melampaui sekadar dukungan moral".
Keterlibatan langsung AS untuk pertama kalinya dalam intervensi yen dipandang sebagai sinyal kebijakan yang kuat. Perkembangan yang paling diperhatikan pasar adalah keputusan Departemen Keuangan AS untuk bertindak lewat transaksi nyata, bukan sekadar peringatan verbal seperti yang kerap terjadi di masa lalu. Financial Times, mengutip sumber yang mengetahui, menyebut New York Fed mengeksekusi penjualan euro dan pembelian yen melalui Goldman Sachs dan Morgan Stanley.
Sebelum masuk pasar, Departemen Keuangan AS disebut telah memberi sinyal kepada sejumlah institusi Wall Street mengenai kemungkinan intervensi dan menjaga komunikasi dengan Bank Sentral Eropa. New York Fed juga mengirim sinyal kebijakan dua hari berturut-turut. Pada Kamis, New York Fed melakukan "rate check" pada pasangan USD/JPY, yakni meminta dealer menginformasikan kurs yang dapat diperdagangkan tanpa langsung mengeksekusi transaksi. Pada Jumat, "rate check" dilakukan pada EUR/JPY. Pasar umumnya menilai "exchange rate check" sebagai pendahuluan menuju intervensi resmi.
Strategi "exchange rate check" ini dipandang sebagai pendekatan baru. Ahli strategi valas Bank of America Securities Alex Cohen menulis bahwa "exchange rate checks" menjadi instrumen baru Departemen Keuangan AS tahun ini, berada di antara sinyal verbal dan intervensi aktual, sehingga pembuat kebijakan dapat menunjukkan niat tanpa menggelontorkan dana. Ia mengingatkan, tanpa tindak lanjut yang konkret, pasar masih bisa menguji kredibilitas otoritas.
Perhatian lain adalah pilihan AS mengeksekusi aksi melalui euro terhadap yen, bukan dolar terhadap yen. Sejumlah analis menilai ini menunjukkan AS berupaya memengaruhi pasar lewat jalur mata uang non-dolar, menahan tekanan turun pada yen sambil menghindari penambahan tekanan pada dolar.
Di Jepang, rekam jejak intervensi valas sudah panjang. Berdasarkan data resmi dan estimasi pasar, pada 30 Juli otoritas Jepang mengerahkan sekitar 8,45 triliun yen (sekitar US$52,8 miliar) untuk menopang yen, menyusul intervensi besar sebelumnya pada April–Mei dengan akumulasi sekitar 11,7 triliun yen.
Tujuan AS dinilai bukan sekadar menstabilkan kurs, melainkan menjaga stabilitas aset para sekutu dalam ekosistem AI. Strateg Bank of America Michael Hartnett menyebut langkah terkoordinasi AS-Jepang-Korea Selatan ini menyerupai "Price Keeping Operation" (PKO) di era AI, dengan sasaran utama mencegah tekanan berkelanjutan pada aset Jepang, Korea Selatan, dan sekutu lain dalam rantai pasok AI.
Hartnett menilai AS ingin menekan tiga risiko: mencegah depresiasi yen yang terlalu cepat memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang; menghindari penyebaran stres keuangan ke pasar Asia seperti Korea Selatan dan Jepang; serta meminimalkan dampak arus modal yang tidak teratur terhadap pasar obligasi AS.
Tekanan pasar di Korea Selatan belakangan memang meningkat. KOSDAQ jatuh ke level terendah sejak Oktober 2022, sementara saham-saham perusahaan sekuritas besar terus terkoreksi. Di saat yang sama, gelombang investasi AI belum menunjukkan tanda mereda. Data Bank of America mencatat ETF semikonduktor menarik arus masuk sekitar US$53 miliar sepanjang tahun ini, saat investor tetap bertaruh pada pertumbuhan jangka panjang rantai pasok AI meski Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) sempat melemah.
Hartnett menilai intervensi terkoordinasi yang muncul bersamaan dengan koreksi pasar bisa menjadi sinyal bahwa sejumlah perdagangan dengan leverage tinggi mendekati akhir siklus. Meski demikian, kebijakan saat ini lebih diarahkan untuk mengendalikan volatilitas pasar ketimbang mengubah tren melalui langkah likuiditas.