RBI India Tegaskan Lagi Sikap "Membatasi dan Cenderung Melarang" terhadap Aset Kripto
Ringkasan Pasar AI
RBI India menegaskan kembali sikap restriktif yang condong ke arah pelarangan, dengan mendesak bank dan lembaga keuangan yang diatur untuk menghindari kepemilikan, perdagangan, atau memperoleh eksposur terhadap aset kripto dan stablecoin yang diterbitkan secara privat. Pembingkaian ini meningkatkan risiko kebijakan dan akses bagi likuiditas onshore serta on-ramp fiat, sembari menekankan CBDC dibandingkan stablecoin privat. Komentar tersebut juga mempertanyakan metrik adopsi dan membedakan kripto spekulatif dari aset dunia nyata yang ditokenisasi.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT+0.48%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
BlockBeats melaporkan pada 3 Juli bahwa Reserve Bank of India (RBI), dalam dokumen yang diserahkan kepada Standing Committee on Finance di Parlemen, kembali menegaskan dukungannya terhadap pendekatan regulasi aset kripto yang "bersifat membatasi dan condong ke arah pelarangan". RBI menilai "pelarangan" masih merupakan opsi kebijakan yang diterima dalam kerangka regulasi internasional.
RBI merekomendasikan bank dan lembaga keuangan lain yang berada di bawah pengawasan regulator agar tidak menyimpan, memperdagangkan, atau memiliki eksposur terhadap aset kripto maupun stablecoin yang diterbitkan pihak swasta, guna mencegah sistem keuangan terpapar risiko penularan (contagion). RBI juga menilai penerapan aturan keuangan tradisional pada aset kripto dapat menyesatkan pasar karena memberi kesan legitimasi pada aset spekulatif yang tidak memiliki nilai ekonomi riil, sekaligus menciptakan rasa aman semu bagi pengguna.
Bank sentral itu memperingatkan bahwa adopsi stablecoin dalam skala besar dapat menggerus kedaulatan moneter India, melemahkan transmisi kebijakan moneter, memecah sistem pembayaran, dan menambah risiko stabilitas keuangan. Karena itu, RBI mendorong prioritas pengembangan infrastruktur pembayaran digital berdaulat, termasuk central bank digital currencies (CBDC).
RBI turut mempertanyakan sejumlah peringkat yang menyebut India sebagai pemimpin adopsi kripto global, dengan alasan adanya kelemahan metodologis pada data dari perusahaan analitik blockchain swasta. RBI mencatat saat ini terdapat 54 penyedia layanan kripto yang terdaftar pada FIU di India, dengan sekitar 39,3 juta pengguna terverifikasi KYC yang memegang aset kripto senilai kurang lebih INR 20,437 miliar.
RBI menekankan perlunya membedakan secara tegas aset kripto yang bersifat spekulatif dari tokenisasi aset dunia nyata (RWA) seperti obligasi pemerintah dan korporasi, agar inovasi dalam tokenisasi aset keuangan tidak terhambat.