Ketua The Fed Kevin Warsh Nilai Kerangka Inflasi 2020 sebagai Kekeliruan
Ringkasan Pasar AI
Kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh mengindikasikan fungsi reaksi yang lebih hawkish, secara eksplisit menolak kerangka flexible average inflation targeting 2020 dan menekankan toleransi nol terhadap inflasi yang secara persisten berada di atas target. Bahasa "perubahan rezim" meningkatkan peluang yang dipersepsikan terhadap kebijakan yang lebih ketat untuk lebih lama serta premi ketidakpastian kebijakan yang lebih tinggi menjelang dengar pendapat Senat. Hal ini dapat mendukung dolar melalui ekspektasi suku bunga yang relatif restriktif dan menekan aset berisiko yang sensitif terhadap durasi.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCSIDXY2USD/USDT-0.40%
Wawasan AI · NCSIDXY2USD/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan kepada Kongres pada Selasa, 14 Juli, bahwa pendekatan bank sentral dalam mengelola inflasi yang diadopsi pada 2020 adalah sebuah kekeliruan. Ia menjanjikan "perubahan rezim" kebijakan, menjelang hari kedua kesaksiannya di hadapan Senat. Warsh menegaskan The Fed tidak menoleransi inflasi yang bertahan tinggi dan berkomitmen mengembalikan mandat stabilitas harga yang, menurutnya, tersisih oleh kebijakan 2020.
Apa yang Diubah Kerangka 2020
Pada 2020, di bawah Ketua saat itu Jerome Powell, The Fed mengadopsi kebijakan flexible average inflation targeting. Kerangka ini tidak memperlakukan target 2% sebagai batas keras. Inflasi diberi ruang berada sedikit di atas target untuk beberapa waktu, sepanjang sebelumnya sempat berada di bawah target. Tujuannya meratakan laju kenaikan harga dari waktu ke waktu, alih-alih bereaksi terhadap setiap gejolak jangka pendek.
Inflasi memang turun dari puncak 2022, tetapi belum menetap di bawah 2% dalam lima tahun terakhir. (Sumber gambar: Trading Economics.)
Kerangka tersebut juga memiliki sasaran kedua yang kurang disorot publik: The Fed dapat menoleransi periode inflasi di atas target bila hal itu membantu menopang lapangan kerja, khususnya bagi pekerja yang tertinggal dalam pemulihan-pemulihan sebelumnya. Bagian trade-off yang berorientasi pada ketenagakerjaan inilah yang menjadi sorotan utama Warsh.
Alasan Warsh Menyebutnya Kekeliruan
Dalam kesaksian di hadapan House Financial Services Committee, Warsh menilai penggunaan kebijakan inflasi untuk mengelola hasil ketenagakerjaan berada di luar semestinya peran The Fed. "Bank sentral itu bukan bank sentral pertama yang meminta sedikit inflasi lebih tinggi dan berakhir dengan inflasi yang jauh lebih tinggi. Itu adalah sebuah kesalahan," ujarnya.
Inflasi tercatat berada di atas mandat 2% The Fed setiap tahun sejak 2021. Warsh berpendapat kerangka 2020 memberi ruang bagi The Fed membiarkan inflasi lebih panas lebih lama daripada seharusnya. Ia juga menyebut kebijakan tersebut sudah ditinggalkan sebelum dirinya menjabat sebagai ketua dua bulan lalu, sehingga tugasnya kini lebih sebagai menuntaskan penataan ulang, bukan memulai dari nol. "Kerangka itu tidak berhasil mencapai tujuannya, dan saya senang karena sebelum saya datang, pendahulu saya menilai itu dan menyingkirkannya," kata Warsh.
Arah yang Diinginkan Warsh
Warsh belum memaparkan pengganti kerangka tersebut secara rinci. Ia menyatakan telah membentuk lima satuan tugas internal untuk membenahi cara kerja The Fed: komunikasi publik, teknologi, neraca, data ekonomi yang menjadi rujukan, serta metodologi pengukuran inflasi itu sendiri. Ia menggambarkan upaya ini sebagai reformasi di lima dimensi kebijakan moneter, dengan rincian tambahan menunggu laporan satuan tugas.
Pesannya kepada Kongres: tugas The Fed adalah mengembalikan inflasi ke 2% tanpa ambiguitas dan tanpa trade-off, bukan mengelolanya secara fleksibel demi tujuan lain. Sikap itu sejalan dengan pratinjau pandangannya terkait prospek kenaikan suku bunga yang dirilis menjelang sidang.
Pernyataan Warsh muncul saat data inflasi Juni datang lebih rendah dari perkiraan. Di saat yang sama, ekonom mengingatkan potensi risiko inflasi yang didorong AI, terkait belanja pusat data. Optimisme itu juga ditopang oleh perkiraan risiko resesi yang menurun, sehingga memberi The Fed ruang lebih besar untuk menahan suku bunga.
Warsh dijadwalkan kembali ke Capitol Hill pada Rabu, 15 Juli, untuk memberikan kesaksian dalam pekan rilis kinerja perbankan di hadapan Senate Banking Committee. Para legislator diperkirakan akan menekan Warsh mengenai bagaimana kerja lima satuan tugas tersebut akan diterjemahkan menjadi kerangka kebijakan yang konkret.