Hedge Fund Catat Posisi Short Yen Terbesar Sejak 2007, USD/JPY Tembus Level Tertinggi 40 Tahun
Ringkasan Pasar AI
Data CFTC menunjukkan dana berleverage memegang posisi short net yen terbesar sejak 2007 saat USD/JPY diperdagangkan dekat level ekstrem multi-dekade, didorong oleh selisih imbal hasil AS–Jepang yang lebar yang menguntungkan carry trade. Intervensi valas Jepang yang besar baru-baru ini gagal menstabilkan yen, menyoroti keterbatasan kebijakan. Perdagangan ini semakin padat, meningkatkan risiko penutupan posisi short secara tiba-tiba pada setiap kejutan hawkish dari BoJ atau data AS yang lebih lemah, yang berpotensi memperbesar volatilitas lintas aset.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
NCFXUSD2JPY/USDT-0.20%
Wawasan AI · NCFXUSD2JPY/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Yen Jepang menjalani tahun yang sangat buruk, dan investor berleverage dengan kantong terdalam di Wall Street justru menambah taruhan bahwa pelemahannya belum selesai.
Data CFTC menunjukkan leveraged funds membangun posisi net short yen mendekati 138.000 kontrak. Ini menjadi posisi paling bearish terhadap yen sejak 2007.
Tekanan pada yen semakin terlihat setelah kurs melemah ke sekitar 162 per dolar AS, level yang terakhir kali terjadi pada 1986. Suku bunga acuan Jepang saat ini berada di kisaran 0,5%–0,75%, sementara imbal hasil US Treasury sekitar 4%. Selisih kurang lebih 3,25% ini menjadi bahan bakar strategi carry trade: meminjam dalam mata uang berbunga rendah, lalu menempatkan dana pada aset berimbal hasil lebih tinggi.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi USD/JPY menjadi 165, mengindikasikan bank tersebut melihat risiko lanjutan bagi kubu yang berharap yen menguat. Pasar opsi juga sejalan; harga opsi mencerminkan probabilitas sekitar 72% pasangan ini mencapai level tersebut pada pertengahan 2027.
Upaya intervensi Jepang juga dinilai kian kehilangan daya. Pada April dan Mei 2026, Jepang menghabiskan lebih dari US$73,5 miliar untuk intervensi pasar valuta asing demi menopang yen, tetapi pelemahan tetap berlanjut. Bank of Japan memang mulai menaikkan suku bunga dari wilayah negatif ke kisaran 0,5%–0,75%, tetapi kecepatannya jauh tertinggal dibanding level suku bunga AS. Pola serupa pernah terjadi pada intervensi 2022 dan 2024: yen sempat memantul singkat, lalu tekanan jual kembali muncul.
Bagi pelaku kripto, dinamika ini patut dicermati. Pada Agustus 2024, kenaikan suku bunga Bank of Japan yang tak terduga memicu reli yen yang tajam dan mengguncang pasar global. Bitcoin ikut merosot bersama saham saat posisi berleverage terlikuidasi lintas kelas aset.
Dengan posisi short yang kini berada di level tertinggi sejak 2007, perdagangan ini makin padat dan rentan berbalik arah. Sejumlah pemicu dapat memicu pembalikan, mulai dari kenaikan suku bunga BoJ yang mengejutkan, pelemahan mendadak data ekonomi AS yang menekan imbal hasil Treasury, hingga intervensi verbal yang lebih kredibel dibanding upaya sebelumnya. Jika salah satunya terjadi, yen berpotensi reli cepat akibat short covering, memicu volatilitas lintas aset yang kerap menghantam pasar kripto lebih keras karena sensitif terhadap leverage dan kondisi likuiditas.